Jumat, 23 Desember 2011

IBM 2 - SUSU KERBAU


A.     Definisi Susu
Menurut Peraturan Higiene susu adalah susu yang diperoleh dengan jalan pemerahan seekor hewan (kerbau) perahan atau lebih, secara teratur, dan terus menerus, tanpa dicampur, ditambah, maupun dikurangi kandungan lainnya dan harus memiliki ketentuan zat gizi yang telah disyaratkan1.

B.     Asal dan Penyebaran Susu Kerbau
Hewan  kerbau yang telah ada sejak 4500 tahun lampau merupakan salah satu hewan yang menyukai kelembaban. Biasanya kerbau terdapat di sebagian besar Asia (Cina, India, Pakistan, Muangthai, Filipina, Srilanka, Malaysia, Indonesia), Eropa selatan (Italia, Rumania,Bulgaria, Chekoslavakia), Mesir, Kepulauan Carribea, Brasil, dan Australia Utara23. Pada 38 negara terdapat kurang lebih 140 juta kerbau, yang mana setengah dari jumlah tersebut terdapat di India (54,5 juta), China (29,4 juta), Pakistan (10,8 juta) dan sebagian lainnya berada di negara berkembang maupun negara maju lainnya23. Selain kerbau mampu diambil dagingnya, hewan tersebut juga mampu diambil hasil susunya. Sebagaimana ternak perah lain, kerbau  perah memiliki hasil utama susu. Kerbau termasuk pemasok susu terbesar ke 2 di dunia2. Di India, kerbau perah merupakan 35 % dari keseluruhan ternak yang ada di sana, kecuali kambing. Atau kerbau penghasil susu kurang lebih 40 % dari total sapi susu di India3.Kerbau di India menghasilkan rata-rata 504 kg susu tiap tahunnya, sedangkan susu sapi hanya sebesar 173 kg tiap tahunnya3.Dari sejumlah 38,5 juta ton yang memproduksi susu dunia, Negara ini menghasilkan susu sebanyak 23,6 juta ton, sedang Pakistan menghasilkan 10,5 juta ton. Perlu diketahui, kerbau perah mengalami pertumbuhan populasi yang cukup besar apabila dibandingkan dengan sapi yakni > 2 %, sedangkan sapi hanya < 0,1 %. Di Asia, kerbau menyumbangkan 37 % dari total produksi susu, bahkan di Negara-negara seperti India, Pakistan,Thailand, Filipina memberikan > 50 %. Ras kerbau susu yang paling baik yang terdapat di India dan Pakistan kebanyakan dipelihara di daerah dimana temperaturenya pada musim panas meningkat sampai di atas 46 °C dan pada musim dingin menurun hingga suhunya dibawah 4 °C4. Di Rusia, perkembangan dari suatu ras kerbau dimulai pada tahun 1935 dan menghasilkan kerbau Kaukasus. Jumlah kerbau pada tahun 1980 di berbagai negara dapat dilihat melalui tabel berikut 5:
Negara
Jumlah Kerbau dalam Juta Ekor (1980)
Bangladesh
0,5
Burma
1,9
Daratan China (China Mainland)
30,1
India
60,7
Indonesia
2,3
Iran
0,2
Pakistan Barat
11,3
Thailand
5,5
Sumber : Kim,Y,J.,1981

C.     Klasifikasi
Kerbau
Kerbau di Thailand
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Upafamili:
Genus:
Spesies:
B. bubalis
Bubalus bubalis
(
Kerr, 1792)
Dibanding sapi (Bos taurus) kerbau merupakan binatang yang bertulang besar, agak kompak dengan badan tergantung rendah pada kaki-kaki yang kuat dengan kuku-kuku besar. Kerbau tidak memiliki gelambir atau punuk. Salah satu jenis kerbau sungai-salah satu jenis kerbau- bentuk tubuhnya dapat dijadikan sebagai penghasil susu yang baik sesuai dengan bentuk tubuh dari sapi perah, dan bentuk tubuh dari kerbau rawa-jenis kerbau lain- sama dengan bentuk tubuh ras pedaging zebu. Pada umumnya, semua kerbau memiliki tanduk lebih padat daripada tanduk sapi. Arah pertumbuhan tanduknya pun bervariasi, sehingga menyebabkan tanduknya berukuran lebar dibanding tanduk dari sapi perah lain3.
Dari ciri – ciri tersebut diatas umumnya terdapat kerbau domestik yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kerbau sungai dan kerbau rawa-rawa3. Kerbau air (water buffalo) maupun kerbau rawa-rawa (swamp buffalo) memiliki kesukaan/kegemaran akan air, entah itu berkubang dalam air ataupun berkubang dalam lumpur. Jika kerbau sungai menunjukkan kesenangan akan air mengalir yang bersih, beda halnya dengan kerbau rawa yang kesukaannya berkubang dalam lumpur, rawa-rawa dan air yang telah menggenang3. Pada umumnya, produksi susu kerbau rawa adalah 245-778 kg susu pada lamanya hari pemerahan ( laktasi ) 240-293 hari. Sedangkan kerbau sungai menghasilkan susu sebanyak 1700-2000 kg pada lamanya laktasi 280-315 hari3.
Semua jenis kerbau domestik diduga berevolusi dari kerbau liar di India. Kerbau ras dari India terkenal akan kekayaan akan produksi susu yang melimpah. Dapat dilihat dari sifat-sifat khusus yang dimiliki masing-masing yang tergolong kerbau tipe perah diantaranya :
1.    Kerbau Murrah
Kerbau Murrah merupakan kerbau yang habitat aslinya berada di Negara bagian Haryana dan Union territory Delhi di India dan di Propinsi Punjab di Pakistan3. Namun kerbau Murrah merupakan salah satu kerbau perah yang banyak diternakkan  di Indonesia, khususnya daerah sekitar Medan5. Kerbau Murrah selain sebagai kerbau perah yang menghasilkan susu, juga paling efisien dalam menghasilkan lemak susu. Kerbau Murrah merupakan kerbau yang paling utama di dunia, karena mampu memproduksi susu rata-rata 3500-4000 lbs ( 1 lbs=0,453 ) setiap laktasi5. Ternak dari Kerbau Murrah merupakan hasil seleksi yang baik hingga menghasilkan susu sebanyak 5000 – 7000 lbs setiap laktasinya5. Kerbau Murrah mampu memproduksi susu 1814 dalam masa laktasi 9-10 bulan. Di Indonesia, seekor kerbau Murrah mampu menghasilkan susu 1,5 – 3 liter/hari6. Walaupun kerbau Murrah ini termasuk jenis kerbau yang mampu menghasilkan banyak susu, namun petani lebih sering menggunakannya sebagai kerbau pekerja7.
6
2.      Kerbau Nili dan Ravi        
Kerbau jenis ini adalah kerbau perah keturunan Murrah yang tinggal di lembah sungai Sutley dan Pakistan5. Selain itu juga banyak ditemukan di Lahore, Sheikhupura, Faisalabad, Sahiwal, Multan dan Bahawal Nagar di provinsi Punjab3.
Produksi susu pada jenis Kerbau Nili ini mencapai 20-24 lbs setiap hari. Sedangkan untuk Kerbau Ravi mampu memproduksi susu hingga 4000 lbs dalam masa laktasi 250 hari5.
3.      Kerbau Kundi
Kerbau Kundi  pada awalnya ditemukan di daerah Sind5. Kerbau jenis ini dikenal juga sebagai kerbau putih (walaupun warna kulitnya terkadang hitam) karena adanya warna putih berbentuk bintang pada dahinya. Produksi susu kerbau Kundi ini mencapai 2000 kg dalam masa laktasi selama 300 hari5.
 6
4.      Kerbau Surati
Kerbau Surati atau Surti adalah bangsa kerbau perah yang sangat dikenal di daerah Gujarat5. Salah satu ciri Kerbau Surati ini mampu merupakan penghasil susu yang baik; produksi susu rata-rata 1655,5 kg/laktasi dengan kadar lemak 7,5 %5.

5.   Kerbau            Nagpuri
   
      Kerbau perah ini banyak diternak di Nagpur, Maharashtra, Andhra Pradesh dan Mahya Pradesh. Kerbau ini bertanduk melengkung panjang sekali. Susu dihasilkan rendah, hanya 900-1.200 kg selama laktasi9.
6.      Kerbau Jaffarbadi
Kerbau ini termasuk dalam jenis kerbau sungai yang berhabitat di bagian selatan Gujarat,India.Kerbau ini berciri khas berwarna hitam, tubuh yang masif dan tanduk melengkung kebawah. Berat rata-rata kerbau ini 500kg-900kg. Rata-rata hasil susu per 305 hari adalah 1850kg9.

Lebih mudahnya pengelompokkan kerbau perah dapat dilihat melalui tabel berikut :
Selain jenis-jenis kerbau diatas ada pula jenis kerbau yang ada di Timur Tengah dan Eropa. Kerbau di Timur Tengah mencakup kerbau di Mesir dan daerah Timur Tengah lainnya5. Kontribusi kerbau terhadap produksi susu di Mesir cukup tinggi, yakni mencapai 60 % dari pasokan susu yang ada.  Peternakan di daerah Eropa kini cenderung memeakai sistem mekanisasi yang mengakibatkan jumlah kerbau yang diternakkan menjadi berkurang/sedikit5. Kecuali di Bulgaria dan Italia yang mana kerbau diternakkan bertujuan untuk memproduksi susu dan daging. Produksi susu yang dihasilkan pun bervariasi, yakni antara 1400 – 3000 liter5. Produk olahan yang dihasilkan pun bertambah popular, seperti keju Mozarella dan Ricotta di Italia dan keju Pecorino di Bulgaria5.
Bagi kerbau induk yang telah melahirkan -gudel- anak kerbau memerlukan pakan bergizi tinggi agar mampu untuk menjaga kesehatan dan pertumbuhan baginya.pakan tersebut adalah kolostrum5. Kolostrum mutlak diperlukan selama gudel berada dialam bebas, karena mengandung zat-zat antibodi serta diharapkan mampu mengeluarkan kotoran dari pencernaan. Kolostrum ini mengandung banyak benda-benda darah putih dan bekas-bekas sel epitel dari ambing induk. Rasa kolostrum tidak enak, terkadang sedikit masam, dan berbau kurang sedap1. Namun walaupun begitu, kolostrum memiliki kadar protein, lemak dan mineral yang lebih tinggi dari hewan ternak lainnya5. Dengan adanya kadar protein yang tinggi maka itu sangat penting bagi pertumbuhan karena mampu menjadikan sebagai zat pelindung atau antibodi. Adanya mineral yang tinggi mampu membuat menyebabkan mencret yang berguna sebagai obat pencahar dan membantunya bekerja alat pencernaan. Dengan begitu kolostrum dapat dinamakan sebagai pakan bergizi bagi yang mengkonsumsi, entah itu anaknya (gudel) ataupun manusia yang gemar mengkonsumsi susu dari ternak kerbau. Selain  pakan yang bergizi, gudel pun membutuhkan antibiotik untuk menangkal infeksi dari bakteri penyakit. Susu dari induk juga merupakan salah satu sumber bakteri bagi gudel. Pemberian antibiotik sebaiknya dilakukan saat gudel berumur di bawah 3 bulan.  Karena pada umur kurang dari 3 bulan pada prinsipnya gudel adalah hewan monogastric ( berlambung tunggal)5. Oleh karena itu, umur di bawah 3 bulan antibiotik akan lebih berguna diberikan dibanding pemberian di atas 3 bulan. Antibiotik pun mampu mengatasi keadaan stress bagi gudel. Pemberian antibiotik bersamaan dengan kolostrum akan memperbaiki penampilan pertumbuhan gudel. Setelah pemberian kolostrum, gudel diberi susu sesuai kebutuhannya5. Gudel kerbau pada masa pertumbuhan memerlukan susu/susu pengganti sebanyak 8-10 % setiap harinya. Gudel Mesir diperkirakan membutuhkan susu kolostrum sebanyak 2,88 – 4 kg per harinya. Pada tabel di bawah ini dapat dilihat pemberian kolostrum dan antibiotic pada gudel5 :

Umur (hari)
Kolostrum/susu (l)
Perlakuan melawan
Tujuan pencegahan
1

2
2

3



4


7
8

2

-
2

2



1


1
1

2 sendok penuh Auromycin
melalui mulut
Memperkuat pembuluh napas
Konsentrat Vit A (1 ml Vitablend)
2 sendok penuh Piperazine adipate. 1 tablet Enterovi oform diikuti dengan 1 oz paraffin cair sesudah 6 jam
a.    Buff antiserum 50 ml s/c
b.    Strinacin ½ - 1 tablet

Sama seperti hari ke 3
Sama seperti hari ke 4

Calf-Scour

Penyakit napas


Ascariasis dan disentri



Menaikkan antibody
Mencegah Diarrhea/Calf Scour
Ascariasis/Disentri
Coccidiosis
Sumber : Anonimus,1978
*pada umumnya diberikan tambahan mineral dan aurofac setiap harridan vitamin A (10000 iu) tiap minggunya.
Cara pemberian kolostrum bisa menggunakan penjatahan dengan cara pemberian 1 atau 2 puting induk kerbau hingga waktu sapih tiba5. Cara penyapihan yang dapat dilakukan diantaranya5:
1.  Disapih segera setelah lahir
Penyapihan gudel segera setelah lahir diberikan  dengan cara memisahkan gudel dari induknya setelah lahir.  Awalnya, gudel diberi kolostrum atau pengganti kolostrum sampai kebutuhan kolostrumnya terlewati. Pemberian kolostrum minimumnya 3 hari. Setelah itu gudel diberi jatah susu seperti cara pemberian kolostrum, yakni penjatahan. Beberapa saat setelah masa pemberian susu hasil pemerahan induknya berlangsung, tidak menutup kemungkinan pemberian susu induk kerbau diganti dengan susu pengganti buatan manusia. Pemberian kolostrum pada gudel sebaiknya sudah dimulai pada jam pertama kehidupan gudel setelah lahir.  Cara ini akan memberikan masukan gizi yang lebih baik bagi gudel daripada pemberian kolostrum setelah 24 jam. Zat antibodi yang terdapat pada kolostrum 1 jam pertama usia gudel sangat berbeda dengan pemberian kolostrum 24 jam setelah kelahiran. Penurunan zat antibodi secara tajam terjadi pada 24 jam pertama sejak induk kerbau melahirkan5.
2.  Disapih setelah masa kolostrum
Penyapihan setelah masa kolostrum memberikan kesempatan bagi gudel untuk mendapatkan susu sejauh yang ia hendaki / inginkan. Ini berarti akan menjadikan gudel lebih leluasa untuk menyusu daripada cara pertama. Penyapihan setelah masa kolostrum menganjurkan agar 1 jam pertama kelahiran, gudel diberi kolostrum untuk mendapatkan zat antibodi / globulin secara penuh5.  Di bawah ini dapat dilihat perbedaan nilai gizi kolostrum susu sapi dan kerbau.
Zat Gizi Teramati
1 jam
24 jam
36 jam
Kerbau
Sapi
Kerbau
Sapi
Kerbau
Sapi
Total Bahan Padat (%)
1.    Lemak (%)
2.    SNF (%)
3.    Laktosa (%)
4.    Protein (%)
5.    Kasein (%)
6.    Globulin (%)
7.    Albumin (%)
8.    NPN (%)
26,98
7,6
19,68
4,22
15,47
4,2
9,93
1,6
0,29
26,54
6,1
20,46
4,0
16,46
5,1
9,97
1,09
0,37
19,96
9,3
10,61
4,72
5,89
3,46
1,50
0,37
0,28
15,57
4,5
11,11
5,14
5,98
3,28
1,76
0,47
0,31
16,87
6,9
10,02
4,02
5,08
3,69
0,72
0,36
0,32
15,83
5,6
9,66
5,32
4,67
3,32
0,55
0,40
0,27
Sumber : Fahimudin (1975)
Dari tabel diatas dapat dilihat kolostrum mengalami penurunan yang tajam setelah 1 jam diperah dan setelah 24 jam, kadarnya tinggal 1,5 %.adanya kolostrum diharapkan mampu mengeluarkan tahi gagak / meconium yang sering menghambat pencernaan gudel.
3.  Disapih setelah diberi susu terus menerus selama 30 hari
Cara ini hampir sama dengan cara yang kedua, memberikan kesempatan gudel untuk leboh banyak menkonsumsi sejumlah kolostrum  dan susu dari induk. Diperkirakan gudel yang diberi susu cukup selama 30 hari, akan menaikkan berat badan yang cukup tinggi5. Penggunaan susu pada cara ini bukanlah suatu keharusan, namun dianjurkan.
4.  Disapih setelah umur 6 bulan
Pada penyapihan ini, gudel diberi jatah 2 puting susu.  Selama belum disapih, itu beratrti gudel masih ikut dengan induknya5.

Namun idealnya, anak kerbau (gudel) dibiarkan tinggal bersama induknya selama 2 minggu10. Setelah itu baru bisa untuk disapih. Namun penyapihan yang mendadak akan menjadikan gudel dan induknya terkejut5. Hal ini mengakibatkan ambing induk kerbau sulit diperah karena susunya ditahan oleh penurunannya oleh induk kerbau tersebut5.

D.     Komposisi dalam Susu Kerbau
Susu kerbau memiliki kandungan gizi tidak kalah dibandingkan susu sapi. Susu kerbau mengandung 4,5 g protein, 8 g lemak, 463 Kkal dan 195 iu kalsium. Susu kerbau lebih kental dibandingkan susu sapi. Hal ini karena susu kerbau mengandung 16% bahan padat, sedang susu sapi bahan padatnya 12%. Kandungan lemak susu kerbau juga lebih banyak, sehingga kandungan energinya lebih tinggi dari susu sapi.   
Ada baiknya bila mengetahui beberapa susunan/komposisi dari jenis masing - masing susu. Di bawah ini adalah tabel yang menjelaskan berbagai jenis susu5 :
Jenis susu
Air %
Protein %
Lemak %
Laktosa %
Mineral %
Susu Manusia
87,60
1,41
3,78
7,00
0,21
Susu Sapi
87,75
3,30
3,70
4,95
0,70
Susu Kambing
87,23
3,70
4,20
4,23
0,84
Susu Kerbau
78,50
5,9
10,40
4,30
0,80
Susunan air susu tidak selalu sama dan akan selalu berubah – ubah. Hal ini dikarenakan berbagai macam faktor .
Susu kerbau memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi karena itu, potensi dan kandungan gizinya yang sangat besar,susu kerbau dijuluki sebagai Emas Putih. Jika dilihat dari komposisi nilai gizi yang terdapat di dalamnya,susu kerbau tidak kalah dengan susu asal ternak ruminansia lainnya5. Bahkan kandungan protein dan lemaknya sangat tinggi yaitu 5,5-10,5% dua kali lipat dari susu lain.
Dalam susu terdapat beberapa komponen, salah satunya lemak. Wikantadi12 mengatakan lemak susu adalah komponen yang paling beragam. Sebagian besar lemak susu terdiri dari trigliserida. Bahan utama pembentuk lemak susu adalah glukosa, asam asetat, asam beta hidroksobutirat, trigliserida dasri kilomikra dan LDL serta darah. 75 – 90 % dari asam lemak berantai pendek (C4 – C14) dan 30 % dari asam palmitat yang disusun dalam kelenjar susu berasal dari asam asetat5. Dan sisanya berasal dari asam lemak.  Asetil Co-A yang digunakan oleh kelenjar susu dibentuk dari asetat yang terdapat dalam sitoplasma.  Pakan ternak pun sangat berperan dalam kualitas susu, sehingga di dalam pakan ternak harus memenuhi criteria gizi yang baik, yakni terdapat jumlah protein yang tinggi, energi (yang diperlukan untuk membentuk lemak susu) tinggi, mineral yang kaya akan Ca  dan P (tak lupa Na  dan Cl karena cukup penting bagi ternak), vitamin yang cukup5.
Dibanding dengan jumlah laktasi yang sama, kerbau akan menghasilkan lebih banyak lemak dan bahan padat bukan lemak (Solid Non Fat/SNF) daripada sapi lokal. Produksi Susu Kerbau Negara Utama (000 Ton)
Negara
1980
1987
1999
Naik 1980-1990 (%)
Bangladesh
26
21
22
0,5
China
1390
1800
1938
3,7
India
17358
23323
23600
3,7
Nepal
500
547
603
2
Pakistan
6383
8790
10538
5,4
Srilanka
55
67
55
-1,3
Sumber : Mudgal,1999
Produksi susu tiap harinya dan di tiap negara pastilah berbeda – beda3. Produksi susu tiap hari dari kerbau laktasi di India dan Pakistan bisa mencapai  2-2,5 kg pada kerbau kualitas jelek, dan bisa mencapai 20 kg pada kerbau yang baik pengelolaannya. Rata – rata produksi susu kerbau di India didapat lebih kurang 2.005 kg per laktasi. Sedangkan pada kelompok kerbau kualitas baik / tinggi hasil susunya sebesar 2,7 % dari kerbau laktasi menghasilkan susu melebihi 3.630 kg per laktasinya3.
Menurut Rife, empat peternakan yang dikelola dengan baik di Pakistan menunjukkan rata-rata produksi susu lebih dari 1.860 kg per laktasinya dengan kisaran 1.507 – 2.128 kg. Sedangkan di Mesir rata -  rata produksi susunya lebih rendah. Kerbau yang dipelihara pada peternakan pemerintah dan pada stasiun penelitian menunjukkan rata – rata produksi susu 1.814 per laktasi atau lebih rendah dengan range  226 – 3.85613. Orang Arab yang berada di selatan Irak memelihara kerbaunya dengan penuh perhatian, namun karena kondisinya agak menyulitkan maka hal itu menjadikan sebuah kendala bagi sebagian besar peternak. Walaupun demikian di Arab masih mampu memproduksi sebesar 6 kg untuk 200 hari, dan itu merupakan hal yang biasa14. Sedangkan di Filipina kerbau rawa-kerbau yang terkenal karena memiliki kapasitas kerja yang luar biasa- mampu menghasilkan susu sebesar 2-3 kg per hari15.
Dan data terbaru, Kerbau Caucasian ras baru yang dikembangkan di Rusia, menghasilkan susu dengan rata – rata 1.352 kg dalam 300 hari dengan kandungan lemaknya 8,1 %15.
Komposisi Susu Kerbau dan Sapi Zebu, %5
Ternak
Air
Lemak
Protein
Laktosa
Abu
BPBL1
BP
Sapi Zebu
86,6
4,2
3,6
4,9
0,7
9,2
13,4
Kerbau Italia
81,7
7,8
4,2
ND
0,7
10,2
18,0
Kerbau China
76,8
12,6
6,0
3,8
0,8
10,6
23,2
Carabos Phi
78,6
10,4
5,9
4,3
0,8
11,1
21,5
Kerbau Kaukasus
82,7
7,6
4,0
5,0
0,7
9,7
17,3
Murrah Bulgaria
81,9
8,0
4,5
4,7
0,9
10,2
18,2
Murrah India
82,7
7,4
3,6
5,5
0,8
9,8
17,2
Sumber : Gangguli (1981) BP:Bahan Padat ; BPBL1:Bahan Padat Bukan Lemak
Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa susu kerbau memiliki keistimewaan yakni susu yang dihasilkan mengandung air lebih sedikit dibanding susu dari ternak lainnya. Yang terkandung cukup banyak didalamnya adalah bahan padat, lemak, laktosa, dan protein.
 Laktosa pada susu kerbau memiliki kandungan  yang lebih tinggi daripada susu sapi dan mendekati nilai laktosa pada ASI. Laktosa adalah karbohidrat yang hanya terdapat di dalam susu. Laktosa memiliki nilai gizi utama, yakni untuk pertumbuhan bayi, dan mampu berubah secara metabolik menjadi asam laktat di dalam usus halus yang mana hal tersebut penting untuk pertumbuhan jasad renik yang sangat berguna bagi tubuh manusia5.
      Lemak . kerbau Mesir telah diteliti memiliki butiran lemak yang lebih besar dibanding lemak susu kerbau India. Lemak adalah bahan yang penting untuk susunan syaraf. Asam lemak sebagai pangan bayi dianggap mampu menjadikan energi yang cukup serta dapat membentuk myelin dalam susunan syaraf. Karena kandungan lemak pada kerbau rata-rata 2 X hewan ternak lain, maka susu kerbau lebih kental daripada susu sapi10.
      Apabila seekor kerbau tidak tercukupi kebutuhan proteinnya maka akan mengakibatkan kualitas susu yang dihasilkan akan menurun, dan jika hal ini berlangsung terus – menerus jumlah susu yang diproduksi pun akan berkurang5. Ini berarti kerbau tersebut sudah tidak mampu memproduksi sejumlah susu sesuai dengan harapan.

E.     Manfaat Susu
Susu yang mengalami proses fermentasi menurut beberapa ahli gizi mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah sehingga sangat baik untuk dikonsumsi bagi penderita sakit jantung dan orang yang sedang menjalani program diet.  Yang kedua yakni mampu menghasilkan probiotik yang berasal dari bakteri laktat  yang berguna bagi kesehatan tubuh.  Bakteri probiotik ini mampu mengatasi intoleransi terhadap laktosa, mencegah diare, sembelit, kanker, hipertensi, menurunkan kadar kolesterol, menormalkan komposisi bakteri  pada saluran pencernaan setelah pengobatan dengan antibiotik serta mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Selain itu susu dari jenis kerbau rawa dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan pizza. Jangan lupa, susu dari kerbau perah pun tak kalah kandungan gizinya dengan hewan ternak lain pada umumnya, seperti sapi5.

F.      Hasil Olah
Susu dari kerbau banyak digunakan oleh manusia. Diantaranya sebagai berikut :
1.   Dadiah
Susu kerbau dengan proses fermentasi alami (tradisional) setelah diperah susu kerbau langsung dimasukkan ke dalam sepotong bambu segar selama 2 hari yang ditutup dengan daun pisang. Selanjutnya didiamkan atau difermentasi dalam suhu ruang selama satu sampai dua hari hingga terbentuknya gumpalan16.

Dadiah yang dibuat dengan cara seperti itu terdapat di daerah Sumatra Barat5. Dadiah merupakan yogurt dari susu kerbau dengan kandungan mineral Ca tinggi yang menyebabkan tegangan gumpalan tinggi. Dadiah semacam ini biasanya dimakan dengan gula aren. Pembuatan dadiah ini banyak dikembangakan di India16.
 16
2.  Palopo
Sama halnya dengan dadiah, Palopo juga mengalami proses fermentasi alami dengan media terung kecil berwarna kuning (taliwang terung para’).
Selanjutnya didiamkan selama beberapa jam sampai menggumpal menjadi sejenis puding dan dikukus dalam mangkuk yang sebelumnya telah diisi air gula jawa yang telah dilelehkan17.
3.  Keju
Keju merupakan gumpalan atau subtansi yang dibentuk karena koagulasi protein susu dari ternak mamalia jenis tertentu oleh aksi rennet dalam kondisi asam yang dihasilkan oleh adanya asam laktat tambahan dan mempunyai kandungan air tertentu5. Keasaman (pH) normal keju sebesar 5,1 % - 5,4 % dengan kadar air 35 % - 50 %5. Keasaman yang rendah justru akan mematikan atau menghambat pembuatan keju5. Beberapa macam keju yang dihasilkan dari susu kerbau diantaranya Mozarella di Italia, Karnal di India, Domiati di Mesir. Keju yang dihasilkan dari susu kerbau ini seringkali dinilai jelek karena mengalami proses penggumpalan (renneting) yang terlalu cepat. Hal ini dikarenakan di dalam susu kerbau mengandung Ca lebih tinggi dari susu sapi sehingga mengakibatkan waktu gumpal yang lebih cepat atau bisa juga, terjadinya proteolisis, rendahnya kemampuan mengikat air, dan tingginya nilai tegangan permukaan dari gumpalan keju5. Selain itu keju yang dibuat dari susu kerbau cenderung memiliki tekstur yang keras dan kering serta lambat dalam pematangan18.
. 18
4.  Minyak samin ( Ghee )
Minyak samin ini banyak diproduksi di Aceh. Cara pembuatannya susu didiamkan selama 1 hari dalam ember yang bertujuan untuk memisahkan kepala susu dan serum susu19. Kepala susu kemudian diuapkan airnya, sehingga diperoleh campuran lemak dan bekuan protein susu. Campuran ini kemudian disaring untuk dipisahkan lemak dengan bekuan protein susu7. Ghee apabila sudah jadi akan berwarna putih karena tidak mengandung karoten namun makanan ini kaya akan vit A3.
Ghee mengandung 99% - 99,5% lemak susu dan < 0,05 % kadar air. 
 19
5.  Zabadi / Laban
Zabadi dikenal di Mesir. Salah satu hasil olahan dari susu kerbau ini membutuhkan kehadiran mikroba seperti Sacharomyces fragilis, selain Lactobacillus delbrueckii sub sp. bulgaricus, dan Streptococcus thermophilus5. Pada umumnya konsistensi tekstur zabadi ini lebih baik daripada yogurt yang terbuat dari susu sapi, khususnya bagi orang – orang yang tidak menghendaki keasaman tinggi dikarenakan proses pengasaman yang berlangsung lambat5. Zabadi memiliki kandungan laktosa dan protein yang tinggi sehingga dapat membuat sumber energi. Zabadi yang rendah lemak dapat digunakan untuk diet. Selain itu zabadi dapat digunakan sebagai salah satu bahan kecantikan. Berikut penjelasan lebih lanjut tentang kandungan lemak dan protein yang terdapat dalam zabadi / laban :

Low Fat
Regular
Lemak
1,6 %
3,0 %
Protein
5,4 %
4,6 %
Secara umum, zabadi yang dipasarkan memiliki kisaran nilai / kriteria sebagai berikut5 :
1.    Keasaman= 0,6% – 1,45 %                      6. Kadar laktosa= 1,2 – 4,8
2.    pH= 3 – 4,4                                                 7. Kadar abu  = 0,39 – 1,37 %
3.    Total protei  = 3,41 – 5,6 %ppm               8. Asetaldehid= 2 – 26 ppm
4.    Kadar lemak= 1,05 – 6,8 %                       9. Diasetil      = 0 – 0,41 ppm
5.    Total BP      = 10,64 – 18,57 %
20
6.  Susu Bubuk
Pembuatan susu bubuk ada 2 cara5, yakni :
a.  Proses silinder
Pembuatan susu bubuk degan proses silinder memerlukan 2 silinder yang berdempetan dan silinder bagian dalam dipanaskan dengan uap panas (130-150°C) dan kedua silinder tersebut diputar dalam arah yang berlawanan sehingga susu jatuh diantara 2 silinder dan terbagi rata serta memiliki kondisi yang sama.kemudian dilakukan pengeringan yang mana pengeringan ini berlangsung cepat dan kemudian susu ini membentuk lapisan tipis yang terkelupas oleh semacam pisau tipis yang mepet ke silinder dan uap udara dialirkan lewat cerobong di atasnya5.
b.  Proses semprot / kabut
Proses ini dilakukan dengan cara penyemprotan susu susu yang sangat lembut dalam bentuk kabut dalam suatu ruang luas yang dilewati oleh suatu aliran udara panas. Dihidrasi yang terjadi adalah spontan dan susu jatuh di bagian bawahnya dalam bentuk butiran kecil. Pada umumnya aliran udara panas yang tersaring bersuhu 150°C - 160°C di sekitar tabung penyemprot susu. Gerakan tersebut memungkinkan turunnya butiran bubuk ke bagian bawah ruang yang dilengkapi dengan siklon dengan mudah. Pembuatan susu bubuk dengan menggunakan proses ini lebih dinilai unggul dari proses silinder karena tidak banyak terjadi modifikasi komposisi karena pengeringannya berjaln dengan cepat5.
Pembuatan susu bubuk fullcream pra pemanasan terjadi pada suhu 95°C selama sekitar 2-3 menit. Atau 110°C - 130°C selama 15 – 30 detik. Hal ini bertujuan untuk mematikan sebagian besar mikroba, menginaktifkan enzim lipases dan oksidase tahan panas, dan memunculkan derifat sulfohidril yang berfungsi sebagai antioksidan yang mampu melindungi lemak selama penyimpanan5.
Semakain banyak susu yang akan dikentalkan maka semakin banyak pula partikel bubuk yang lebih besar, sedang susu yang sangat cair akan menyebabkan bubuk yang kecil sehingga ringan.  Susu yang kental seperti susu kerbau akan menyebabkan bubuk yang dihasilkan terlalu berat sehingga memiliki masa yang besar, pendinginan yang lambat akan menyebabkan adanya reaksi pencoklatan.
Di dalam susu bubuk adanya O2 sebaiknya dapat dihilangkan, bisa lewat gas N2 dan CO25.
Kasein pada umumnya dikenal sebagai zat pewarna putih dalam susu kerbau. Pada umumnya kasein dibedakan menjadi 4 yaitu kasein alpha, kasein beta, kasein gamma, dan kasein κ5.
7.  Susu Kental (Condensed Milk)
Susu kental ini berasal dari susu hewan ternak yang pada pembuatannya airnya dihilangkan dan ditambahkan gula sehingga menghasilkan susu yang sangat kental dan akan bertahan satu tahun apabila belum dibuka. Olahan susu kental dapat berupa susu kental manis (SKM) dan susu kental. SKM biasanya terdapat di kaleng. Susu kaleng dapat terlindungi dari kontaminasi karena adanya penambahan gula yang tinggi, namun ternyata susu kaleng tersebut mampu menjadi tempat tinggal jamur yang memfermentasi gula sehingga mengakibatkan kaleng menggembung. Selain itu pula menjadi tempat bagi stapilokokus yang mana mampu menghasilkan enterotoksin5.
 Olahan dari susu kental ini seharusnya hanya untuk toping martabak ataupun kue21.
 21
8.  Mentega
Mentega susu kerbau umumnya lebih keras daripada susu sapi karena adanya pengaruh dari asam palmitat dan stearat. Jumlah trigliserida dengan titik leleh lebih tinggi daripada susu sapi sehingga akan menghasilkan kristalisasi pada susu kerbau.  Jadi dalam pembuatan mentega yang terbuat dari susu kerbau harus dalam waktu dan suhu yang lebih pendek5.
9.  Yogurt
Di Amerika yogurt yang terbuat dari susu kerbau sangat digemari oleh masyarakat karena rasanya yang nikmat dan dinilai lebih memiliki keunggulan daripada yogurt dari susu lainnya3.
10. Es Krim
Es Krim yang terbuat dari susu kerbau banyak mengandung krim dan rasanya lebih enak daripada es krim lain yang dijual di pasar3.

Beberapa Hasil Olahan Susu dan Nilai Gizi5

Nama produk olahan
atau nama komersial
TD
%
BV
%
NPU
%
PER
Standar kasein
94,4
76,7
75,2
2,83
Soy Isolat
94,3
74,6
70,3

Bubuk susu skim
91,4
86,4
78,9

Lacprodan 35 (Damark)
97,3
95,8
93,2

Lacprodan 80 (Damark)
98,9
96,5
95,4

Sumber : Eggum (1981) folder Danmark Protein
BV = Nilai Biologi    NPU = Penggunaan Protein Neto           PER = Rasio Efisiensi Protein

G.     Mutu
Produksi susu kerbau dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain5 :
1.  Breed atau bangsa kerbau
Produksi susu kerbau yang dipengaruhi adanya dari bangsa itu sendiri3. Beberapa bangsa kerbau perah dapat dilihat melalui tabel berikut 5:
Bangsa Kerbau
Produksi Susu (kg)
Panjang Laktasi (Hari)
Murrah Bulgaria
2.023
300
Murrah Malaysia
1.030
300
Nili/Ravi India
2.440
326
Murrah India
1.635 – 1.813
283 – 296
Surti India
1.460 – 1.934
313 – 315
Bhadawari India
1.165
276
Nagpuri India
926
295
Italia
1.030 – 2.981
100 – 558
Rusia
669 – 1.500
300
China/Taiwan rawa
778
293
Sumber : Bongso and Mahadevan,1990,Mudgal,1999,Castillo,L.S.1975
            Berat kecilnya kerbau tersebut akan mempengaruhi pada tingkat produksi susu.

2.  Umur beranak pertama kali
Umur kerbau ketika beranak pertama kali mempengaruhi jumlah susu/ produksi susu yang dihasilkan. Dapat dilihat sebagai berikut 3:
Umur Kerbau Beranak
Produksi Susu (kg)
          < 42 bulan
Total 9,330
42  – 48 bulan
8,719
 >48 bulan
9,196
Kerbau perah yang terlambat beranak pertama kali akan mengurangi jumlah gudel yang dihasilkan, karena akan mengurangi kehidupan produktifnya sebagai hewan ternak. Tingginya umur beranak pertama kali ( dilihat dari tabel diatas) disebabkan oleh jenis pakan bermutu rendah yang diberikan kepada kerbau dibanding sapi. Dengan demikian, pertumbuhan kerbau akan sedikit lebih lambat apabila dibanding sapi. Ada korelasi yang kuat antara umur beranak pertama kali dan produksi susu laktasi I serta lama laktasi5.

3.  Musim beranak
Hampir 80 % gudel di India lahir  pada musim panas-gugur (Juni – Desember)5. Sebagai contoh, kerbau Murrah beranak pada antara bulan Juni hingga November4. Sedangkan gudel – gudel di Mesir lahir pada musim gugur – dingin (Oktober – Maret)5. Kerbau yang beranak pada bulan Februari – Maret merupakan kerbau yang memiliki kualitas susu paling baik5. Produksi susu kerbaupun sangatlah berpengaruh pada saat musim panas.Bila kerbau-kerbau tersebut dalam periode optimal dari laktasinya badannya diperciki air selama musim itu, sehingga nantinya akan terjadi peningkatan jumlah produksi susu. Namun apabila tidak diberi perlakuan tersebut maka produksi susunya akan menurun dan tidak teratur22.  Di Filipina, kerbau yang beranak pada bulan Januari – April atau Musim Kemarau akan menghasilkan susu lebih banyak dibanding musim – musim lain. Di Pakistan, produksi susu tertinggi akan dicapai apabila gudel yang dilahirkan antara bulan November – Desember5. Keterbatasan hormon juga mempengaruhi sedikit – banyaknya  produksi susu.Hormon berperan pada saat terdapat sedikit pakan, namun bermutu. Ternak kerbau perah akan cenderung lebih cocok pada suhu udara lingkungan yang sejuk hingga dingin karena daya tahan kerbau perah tersebut terhadap panas lebih rendah daripada sapi perah5.

4.  Banyak laktasi yang telah dihasilkan
Kerbau perah umumnya akan memperlihatkan puncak  produksi pada laktasi ke 4 –  ke 6. Setelah itu, produksi susu kerbau akan cenderung menurun, secara tetap5.
Laktasi ke-
Produksi Susu (kg)
Produksi 300 hari (kg)
Lama Laktasi (hari)
1
1.618,5
1.573,4
217,8
2
1.880
1.790,4
300
3
1.964
1.878
298,3
4
2.039,5
1.963,8
291
5
2.024,3
1.959,4
290
6
1.823,7
1.767,5
270
Sumber : Bhat,1992

5.  Tingkatan laktasi
Umumnya, puncak produksi susu kerbau setiap masa laktasi terjadi pada bulan ke-2 hingga ke-3. Biasanya, setelah bulan ke-4 dari masa kebuntingannya produksi susu kerbau cenderung menurun. Hal ini disebabkan karena adanya kenaikan kadar lemak / fat. Ini menunjukkan produksi susu setelah bulan ke-4 berbanding terbalik dengan kadar lemak. Puncak laktasi dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya  pakan, dan musim beranak.Namun pada umumnya,puncak laktasi terbaik tercatat pada laktasi I5
Dengan seiring bertambahnya kadar lemak pada susu kerbau yang mengakibatkan kandungan lemak susu kerbau tinggi, maka produktivitas kerbau akan dihitung pula dari total lemak5. Hal ini dapat dilihat pada komposisi gizi susu kerbau di bawah ini 5:
Bulan Laktasi
Fat
Laktosa
Bahan Kering
Protein Whey
Abu
1
6,16
5,30
3,96
0,62
0,82
2
5,73
5,03
3,75
0,65
0,80
3
6,59
5,18
3,59
0,62
0,80
4
5,57
5,00
3,51
0,63
0,75
5
6,11
5,16
3,88
0,54
0,77
6
7,20
4,86
3,73
0,60
0,80
7
7,05
4,68
3,59
0,56
0,78
8
7,98
5,00
4,34
0,76
0,83
9
7,01
5,11
3,53
0,71
0,81
10
7,18
4,64
4,05
0,66
0,83
Sumber : Abd. E-Salam, M. H. dan S. El-Shibiny. 1966

6.  Jarak antara dua kelahiran anaknya
Faktor ke-6 ini menentukan produksi susu kerbau karena penting bagi menentukan efisiensi reproduksi. Jarak antara 2 kelahiran gudel disebabkan perbaikan kualitas perkawinan pada musim panas. Jarak antara 2 kelahiran gudel ini pun pada umumnya memiliki hubungan yang erat dengan masa layanan perkawinan5. Layanan perkawinan yang lama maupun yang pendek akan mempengaruhi jumlah gudel yang lahir  dan banyak susu yang dihasilkan. Kerbau Murrah biasanya melahirkan anak dengan rata-rata interval beranaknya 428,7 hari4.

7.  Pakan dan tata laksana pemberian
Kerbau yang diberi pakan yang berkualitas tinggi cenderung memproduksi susu yang cukup lama. Dan apabila kerbau yang diberi pakan kualitas rendah, misal limbah pertanian, maka hasil susu yang diproduksi tidak menjamin akan mendapat kualitas yang baik4. Di daerah yang terdapat sejumlah kerbau dalam jumlah banyak maka kemungkinan akan terjadi  defisiensi makanan sehingga dibutuhkan pengganti pangan yang bisa mencukupi kebutuhan pangan dari kerbau-kerbau tersebut. Selain itu, di daerah tersebut biasanya pun makanan yang ada adalah makanan yang berkualitas rendah4.
Selain itu produksi susu kerbau dipengaruhi oleh layanan perkawinan, periode kebuntingan, panjang laktasi, dan non-genetik.  Faktor non – genetik disini meliputi24:
a.    waktu keluarnya susu (let down time) : waktu dihitung sejak putting disentuh hingga keluar susu pertama. Apabila waktu keluarnya susu semakin lama, maka itu berarti jumlah produksi susu yang dihasilkan semakin sedikit / turun.
b.    waktu pemerahan (milking time) : waktu sejak keluarnya susu pertama hingga terakhir. Waktu pemerahan dipengaruhi oleh hormone oksitosin. Dan jumlah kadar hormone yang dikeluarkan tergantung pada ukuran ternak, tahapan laktasi, total produksi susu, berat badan ternak.
c.    kecepatan lewat susu (rate of milk flow) : rasio antara produksi susu dan waktu pemerahan total. Kecepatan keluarnya susu yang lebih besar diperkirakan akan menaikkan jumlah produksi susu.

Jika ternak tidak dikawinkan pada waktunya setelah beranak, maka hal ini cenderung akan menyebabkan periode laktasi yang lama, bahkan sampai 400 hari (minimalnya < 350 hari)3.
Selain unsur-unsur  yang mempengaruhi produksi susu yang telah dijelaskan di atas, susunan gizi susu kerbau pun dipengaruhi oleh beberapa hal5, yakni :
1.     Spesies dan ragam jenis bangsa
Susu kerbau perah pada umumnya lebih kaya akan bahan dasar penyusunan susu dibanding susu sapi, kecuali kadar air dan kandungan karotennya. Tidak adanya karoten membuat warna susu lebih putih daripada susu sapi.
2.    Ragam musim
Susunan gizi susu kerbau dapat berubah-ubah sesuai musimnya, baik musim dingin, panas, semi, maupun gugur. Hal ini sangat berkaitan dengan pakan yang diberikan saat itu.
3.    Banyaknya pemerahan setiap harinya
Pada awal pemerahan susu kerbau akan memiliki susunan gizi yang berbeda dengan pertengahan ataupun akhir pemerahan. Pada awal pemerahan, susu kerbau umumnya memiliki kandungan lemak yang sedikit, ini dikarenakan kelenjar ambing tidak menutup katup penutup untuk menghambat kecepatan produksi susu tersebut. Sementara pada pemerahan akhir, susu kerbau akan kaya lemak. Let down of milk membutuhkan waktu 32 – 37 detik, sedangkan akhir laktasi 62 – 67 detik.
4.    Unsur genetik
Kawin silang sangat mempengaruhi jumlah protein susu. Walaupun dalam satu spesies, jika terjadi kawin silang akan tetap mempengaruhi hasil dari protein susu. Produksi susu selain dipengaruhi oleh faktor genetik juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan termasuk manajemen pemeliharaannya.Kerbau Sungai spesies Kerbau Murah mempunyai kemampuan produksi susu yang lebih baik dari Kerbau Lumpur, namun lama laktasi kedua jenis kerbau tidak jauh berbeda. Di bawah ini dapat dilihat produksi susu pada Kerbau Lumpur, Kerbau Sungai dan Crossbred (persilangan)
Kriteria
Kerbau Lumpur
Kerbau Sungai
Crossbred
Laju pertumbuhan pedet (kg per hr)
0,4 - 0,8
0,4 - 0,7
0,4 - 0,7
Lama laktasi (hari)
236 - 277
240 - 300
236 - 277
Produksi susu per hari (liter)
1,0 - 2,5
4 - 15
3 - 4
Sumber : Thac dan Vuc (1979); Khajarern dan Khajarern (1990); Thu, Dong, Quaq dan Hon (1993); Sanh, Preston dan Ly (1997); Thu, Pearson dan Preston (1996); Gongzhen (1995) dan Puslitbang Peternakan (2008) dalam Bahri dan Talib (2007).
5.      Produksi susu selain dipengaruhi oleh faktor genetik juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan termasuk manajemen pemeliharaannya5.

H.     Penyakit Berhubungan dengan Susu Kerbau
Penyakit – penyakit yang diderita oleh kerbau tidak jauh berbeda dengan yang diderita sapi. Hal ini pula yang akan membuat kualitas hasil olahan dari kerbau-susu- akan menurun. Salah satunya adalah mastitis. Mastitis adalah salah satu penyakit yang serius dari kerbau, terutama di negara – negara dimana kerbau dipelihara untuk diambil susunya. Survey mastitis yang dilakukan pada 690 kerbau di 9 kelompok perah di berbagai daerah India menunjukkan kejadian sebesar 20,7 % kasus subklinis atau kasus insidious dan 2,4 % kasus klinis3. Pada survey random lain 1.193 kerbau di bagian utara India, menemukan kejadian infeksi sebesar 11 % di daerah urban dan 9 % di daerah rural.Kurang lebih 98 % dari kasus yang dijumpai disebabkan oleh spesies staphylococci yang sifatnya pathogen sedangkan sisanya karena sebab lain25. Di temukan pada suatu survey bahwa 9 % dari 860 kerbau yang dibawa ke klinik di Kairo terinfeksi mastitis26.
Terdapat penyakit lain yang menyerang kerbau (bukan pada susunya) yaitu ada Neoascaris vitulorum yang menyebabkan kematian yang sedikit cepat pada binatang yang masih muda. Selain itu ada Brucellosis yang mana penyakit ini sudah ckupu popular di kalangan kerbau. Di Indonesia, brucellosis dinyatakan bersifat sporadic pada kerbau, walaupun sifatnya endemic pada sapi3.
Dalam tata pelaksanaannya kemungkinan akan ditemuinya berbagai penyakit bagi kerbau sangatlah mungkin, diantaranya Pasteurilosis yang disebabkan oleh jasad renik Pasteurella multocida27. Gejala klinisnya antara lain suhu naik secara tiba – tiba hingga 42 °C, ludah yang berlebih, depresi parah dan dapat mati dalam waktu 24 jam atau kurang5. Selain Pasteurilosis ada juga Bloat yang diartikan sebagai pengelembungan rumen dan retikulum secara berlebih akibat pengaruh gas hasil kegiatan fermentasi karbohidrat dari pakan yang dimakannya secara cepat5.
DAFTAR PUSTAKA

1.Sindurejo, Suwadi.1996.Pedoman Pemeliharaan Kambing Perah.Jakarta:Balai Pustaka-cet 1
2.Mudgal,V.1992.Reproduction in River Buffaloes.In :BuffaloProduction.Ed. NM. Tulloh and J.H.G.Holmes.Elsevier-London
3.Bhattacharya,Williamson,G,Payne, W .J, A.1959.An Introduction To Animal Husbandary In The Tropics Third Edition (Pengantar Peternakan Di Daerah Tropis,Edisi Ketiga).Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
4.Singh, R. B., Sharma, S. C. dan Singh, S.1958.Influence of the season of calving on inter-calving period in Murrah buffaloes and Hariana cows.Ind.J.Dairy Sci.,11,154-60.
5.Murti,Trijoko Wisnu.2002.Ilmu Ternak Kerbau.Yogyakarta:Kanisius
10.Suharno,Bambang,Nazaruddin.1994.Ternak Komersial.Jakarta:Penebar Swadaya
dukasi.net/index.php?mod=script&cmd=Bahan%20Belajar/Pengetahuan%20Populer/view&id=199&uniq=1421(diunduh tanggal 17 November 2011)
12.Wikantadi,B.1977.Biologi Laktasi.Bagian Ternak Perah Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta
13.Rife, C. D.1958.The Water Buffaloes of Indian and Pakistan.hlm.37.Int.Co-operation Admin:Washington
14.Ragab, M. C.,Yadav, P. C., Terawi, R.B.L. dan Roy, A.1968.Studies on the oestrous behavior based on the cervical mucus crystallization pattern in buffalo cows and its relationship to fertility.Ind.J.vet.Sci.Anim.Husb.,38,546-57.
15.Agabeili. A.A.,Guseinov, I.A.dan Serdyuk, V.S.1971.A new buffalo breed the Causasian (Russian) Zhivotnovodstvo Mosk.,33,61-3. Abstracted : Anim . Breed . Abstr.,40.26.1972
22.Sinha, K. C. dan Minett, F.C.1947.Appilcation of water to the body surface of water buffaloes and its effect on milk yield.J.Anim.Sci.,6,258-64.
23.Toelihere,Mozes.1981.INSEMINASI BUATAN PADA TERNAK.Bandung:Angkasa
24.Johari and Bhat.1979.Effect of Genetic and Non Genetic Factors on Production Traits in Buffaloes.Indian J.Anim. Sci.49984-991.
25.Katra, D. S. dan Dhanda, M. R.1964.Incidence of mastitis in cows and buffaloes in North West India.Vet.Rec.,76,219-22
26.El-Gindy,H.,Farrag,H.F.dan Abou El-Asm,L.1964.A study o the treatment o mastitis in buffaloes and cows in Egypt.Vet.Med.small.Anim.Clin.,59,380-2. Abstracted:Vet.Bull.,34,451.1961
27.Cockrill.1974.The Husbandary and Health of the Domestic Buffalo.FAO Roma.


































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar